PEKANBARU - Milad ke-2 Parsadaan Hasibuan Riau (PARHARI) yang akan digelar pada 27 September 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi momentum perayaan bertambahnya usia organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut dinilai penting untuk merajut kembali akar sejarah keluarga besar Hasibuan, memperkuat hubungan kekerabatan, sekaligus menjaga kelestarian budaya Batak Angkola–Mandailing di tengah kemajemukan masyarakat Riau.
Ketua Parsadaan Hasibuan Riau (PARHARI), Dr. Kalayo Hasibuan, M.Ed.-TESOL, mengatakan, sebuah organisasi yang memiliki akar sejarah akan lebih mudah menentukan arah masa depannya.
Menurutnya, Milad ke-2 PARHARI harus menjadi ruang refleksi mengenai dari mana keluarga besar Hasibuan berasal, nilai-nilai apa yang diwariskan para leluhur, serta warisan apa yang akan diberikan kepada generasi mendatang.
"Momentum ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan organisasi dan perayaan bertambahnya usia PARHARI. Lebih dari itu, ia dapat menjadi kesempatan untuk merajut kembali akar sejarah keluarga besar Hasibuan, memperkuat hubungan kekerabatan, dan meneguhkan komitmen melestarikan budaya Batak Angkola–Mandailing," ujar Dr. Kalayo.
Selain peringatan Milad ke-2, agenda 27 September 2026 juga dirangkaikan dengan pembentukan kepengurusan PARHARI di kabupaten/kota se-Provinsi Riau.
Pembentukan struktur organisasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat koordinasi, pelayanan, dan hubungan antaranggota. Namun, Dr. Kalayo menekankan bahwa pembentukan kepengurusan tidak boleh berhenti pada persoalan administratif semata.
"Yang jauh lebih penting adalah bagaimana struktur tersebut diisi dengan semangat persaudaraan dan nilai budaya. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang menjadi pengurus, tetapi untuk apa pengurus dibentuk dan nilai apa yang hendak diperjuangkan," katanya.
Merajut Akar Sejarah di Tanah Riau
Dr. Kalayo menjelaskan, masyarakat Batak Angkola–Mandailing memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Perpindahan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain telah membentuk jaringan kekerabatan yang melampaui batas geografis.
Riau, kata dia, menjadi salah satu ruang tempat keluarga-keluarga Batak, termasuk keluarga besar Hasibuan, membangun kehidupan dan menjadi bagian dari dinamika masyarakat.
Anak-anak keluarga Hasibuan lahir dan tumbuh di Riau, mendapatkan pendidikan, bekerja, serta membangun masa depan di daerah ini.
Kondisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan dan peluang dalam menjaga identitas budaya.
"Tantangannya adalah bagaimana identitas budaya tetap dapat dipelihara ketika generasi muda hidup dalam lingkungan sosial yang semakin global dan digital. Peluangnya adalah bagaimana budaya tersebut dapat diperkenalkan kembali kepada generasi muda dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan mereka," jelasnya.
Menurutnya, melestarikan budaya bukan berarti membawa seluruh kehidupan masa lalu ke masa kini secara apa adanya. Pelestarian budaya justru berarti mengambil nilai-nilai luhur dari masa lalu untuk dijadikan pedoman menghadapi kehidupan masa kini dan masa depan.
Dalihan Na Tolu sebagai Etika Kekerabatan
Salah satu nilai penting yang dapat menjadi landasan kehidupan organisasi PARHARI adalah Dalihan Na Tolu.
Dalam konteks Batak Angkola–Mandailing, Dalihan Na Tolu bertumpu pada tiga unsur utama, yakni mora, kahanggi, dan anak boru.
Ketiga unsur tersebut membentuk jaringan hubungan sosial yang saling berkaitan dan menjadi salah satu fondasi kehidupan adat.
Dalam masyarakat Angkola–Mandailing dikenal prinsip: Hormat Marmora, Manat Markahanggi, Elek Maranak Boru.
Hormat Marmora mengajarkan penghormatan kepada mora yang memiliki kedudukan penting dalam jaringan kekerabatan.
Manat Markahanggi mengajarkan kehati-hatian, perhatian, kebersamaan, serta menjaga hubungan dengan kahanggi atau kerabat semarga.
Sementara Elek Maranak Boru mengandung pesan agar hubungan dengan anak boru dibangun melalui kasih sayang, kebijaksanaan, penghargaan, dan sikap mengayomi.
"Ketiganya tidak berdiri sendiri. Ia membentuk hubungan yang saling melengkapi. Inilah sebabnya Dalihan Na Tolu dapat dipahami bukan sekadar sebagai struktur adat, tetapi sebagai etika hubungan sosial," ujar Dr. Kalayo.
Jika nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan PARHARI, lanjutnya, jabatan organisasi tidak semestinya dipandang sebagai tempat memperoleh kedudukan, melainkan sebagai amanah untuk melayani dan memperkuat persaudaraan.
Dari Nilai Adat Menjadi Budaya Organisasi
Dr. Kalayo menilai PARHARI dapat menjadi ruang aktualisasi nilai Dalihan Na Tolu dalam kehidupan organisasi.
Hormat Marmora dapat diterjemahkan menjadi budaya menghormati orang tua, tokoh adat, sesepuh, dan mereka yang telah lebih dahulu membangun organisasi.
Manat Markahanggi dapat diwujudkan melalui sikap hati-hati dalam berkomunikasi, menjaga persatuan sesama anggota, menghindari konflik yang tidak perlu, serta mengutamakan musyawarah.
Sedangkan Elek Maranak Boru dapat diterapkan melalui kepedulian, penghargaan, pelayanan, dan pengayoman kepada sesama anggota.
Dengan demikian, Dalihan Na Tolu tidak hanya menjadi ungkapan yang disampaikan dalam acara-acara adat atau pidato organisasi, tetapi benar-benar menjadi budaya dalam kehidupan PARHARI.
Poda Na Lima dan Kepedulian terhadap Lingkungan
Selain Dalihan Na Tolu, PARHARI juga dinilai dapat menghidupkan kembali nilai Poda Na Lima sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam tradisi Angkola–Mandailing, Poda Na Lima dikenal melalui lima nasihat:
Paias Rohamu — bersihkan hatimu.
Paias Pamatangmu — bersihkan tubuhmu.
Paias Parabitonmu — bersihkan pakaianmu.
Paias Bagasmu — bersihkan rumahmu.
Paias Pakaranganmu — bersihkan halaman atau lingkunganmu.
Dr. Kalayo menilai lima nasihat tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Paias Rohamu mengingatkan manusia untuk membersihkan hati dari kebencian, iri hati, prasangka, dan permusuhan.
Paias Pamatangmu mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan serta kesehatan tubuh.
Paias Parabitonmu mengajarkan kepantasan dan kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.
Paias Bagasmu mengingatkan bahwa rumah merupakan tempat pertama dalam membangun keluarga yang sehat dan harmonis.
Sementara Paias Pakaranganmu memperluas tanggung jawab manusia dari lingkungan rumah menuju lingkungan sosial yang lebih luas.
"Karena itu, Poda Na Lima sebenarnya dapat menjadi jembatan antara budaya, karakter, agama, kesehatan, dan kepedulian lingkungan," ungkapnya.
PARHARI Didorong Menjadi Wadah Pelestarian Budaya
Menurut Dr. Kalayo, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Budaya harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, PARHARI ke depan dapat mengambil peran dalam mendokumentasikan sejarah keluarga besar Hasibuan, menghimpun dan menyusun tarombo, memperkenalkan bahasa dan istilah kekerabatan Angkola–Mandailing kepada generasi muda, serta mendokumentasikan adat dan tradisi.
Selain itu, PARHARI juga dapat mengembangkan kegiatan seni dan budaya, kegiatan sosial dan kemanusiaan, komunikasi antargenerasi, serta dokumentasi sejarah tokoh-tokoh Hasibuan di Riau.
Pemanfaatan teknologi digital juga dinilai penting agar nilai-nilai budaya dapat diterima dan dipelajari generasi muda melalui media yang dekat dengan kehidupan mereka.
Generasi Muda Harus Diberikan Ruang
Dr. Kalayo menilai salah satu tantangan terbesar pelestarian budaya bukan semata-mata globalisasi, melainkan ketika generasi muda tidak lagi mengetahui akar sejarahnya.
Seorang anak mungkin mengetahui nama marganya, namun belum tentu memahami makna marga tersebut. Demikian pula istilah Dalihan Na Tolu mungkin dikenal, tetapi belum tentu dipahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, generasi muda harus diberikan ruang yang lebih luas dalam organisasi.
"Generasi muda jangan hanya ditempatkan sebagai peserta acara. Mereka perlu diberi kesempatan menjadi pelaku, pengelola, peneliti, dokumentator, kreator digital, dan penerus organisasi," katanya.
Menurutnya, generasi muda dapat dilibatkan dalam pembuatan podcast sejarah Hasibuan, video pendek mengenai Dalihan Na Tolu, dokumentasi Poda Na Lima, wawancara dengan para tetua, hingga penyusunan arsip digital perjalanan keluarga Hasibuan di Riau.
Dengan demikian, teknologi tidak menjadi ancaman terhadap budaya, melainkan dapat menjadi sarana memperpanjang umur budaya.
Tetap Berakar, Terbuka dalam Kemajemukan
Pelestarian budaya Batak Angkola–Mandailing, kata Dr. Kalayo, tidak harus dipertentangkan dengan kehidupan masyarakat Riau yang majemuk.
Identitas budaya justru dapat menjadi bagian dari kekayaan sosial Riau.
Keluarga besar Hasibuan dapat tetap memelihara adat, bahasa, sejarah, dan nilai leluhur sekaligus membangun hubungan harmonis dengan seluruh masyarakat.
"Dalam masyarakat yang majemuk, identitas bukan alasan untuk membuat jarak. Identitas justru dapat menjadi dasar untuk saling mengenal dan saling menghargai," katanya.
Karena itu, PARHARI diharapkan dapat menjadi organisasi yang kuat dalam kekerabatan sekaligus terbuka dalam kehidupan sosial.
"Berakar dalam budaya, hidup dalam kebersamaan, dan berkontribusi bagi masyarakat," tegasnya.
Milad ke-2 Menjadi Titik Evaluasi
Milad ke-2 PARHARI Riau pada 27 September 2026 juga diharapkan menjadi momentum evaluasi perjalanan organisasi selama dua tahun sekaligus menyusun agenda masa depan.
Sejumlah pertanyaan penting perlu dijawab bersama, mulai dari apa yang telah dilakukan selama dua tahun terakhir, apa yang sudah berhasil, apa yang masih perlu diperbaiki, hingga bagaimana hubungan antarkepengurusan dapat semakin diperkuat.
Termasuk bagaimana memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi muda serta bagaimana sejarah keluarga besar Hasibuan di Riau dapat didokumentasikan secara sistematis.
"Usia organisasi bukan hanya angka. Usia adalah perjalanan dan amanah," ujar Dr. Kalayo.
Karena itu, agenda 27 September 2026 diharapkan menjadi momentum untuk tiga hal utama.
Pertama, memperkuat struktur organisasi melalui pembentukan PARHARI kabupaten/kota se-Provinsi Riau.
Kedua, memperkuat persaudaraan melalui pengamalan nilai Dalihan Na Tolu: Hormat Marmora, Manat Markahanggi, Elek Maranak Boru.
Ketiga, memperkuat karakter dan kepedulian terhadap lingkungan melalui nilai Poda Na Lima: Paias Rohamu, Paias Pamatangmu, Paias Parabitonmu, Paias Bagasmu, dan Paias Pakaranganmu.
Ketiga agenda tersebut diharapkan menjadi satu kesatuan dalam membangun organisasi yang kuat, persaudaraan yang erat, dan budaya yang tetap lestari.
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Pada akhirnya, PARHARI bukan hanya berbicara mengenai generasi hari ini, tetapi juga tentang anak-anak dan cucu-cucu yang akan datang.
Generasi berikutnya kelak akan bertanya siapa leluhur mereka, dari mana mereka berasal, nilai apa yang diwariskan, serta apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya untuk mempertahankan warisan tersebut.
Karena itu, pekerjaan menjaga akar sejarah dan budaya harus dimulai sejak sekarang.
Jangan sampai generasi berikutnya hanya mewarisi nama Hasibuan, tetapi kehilangan cerita tentang leluhurnya.
Jangan sampai mereka mengetahui istilah Dalihan Na Tolu, tetapi tidak memahami Hormat Marmora, Manat Markahanggi, Elek Maranak Boru.
Dan jangan sampai mereka mampu mengucapkan Poda Na Lima, tetapi tidak mengamalkan Paias Rohamu, Paias Pamatangmu, Paias Parabitonmu, Paias Bagasmu, dan Paias Pakaranganmu.
"Warisan budaya yang paling berharga bukan hanya benda-benda adat. Warisan yang paling penting adalah nilai yang hidup dalam perilaku manusia," tutur Dr. Kalayo.
Milad ke-2 PARHARI Riau pada 27 September 2026 pun diharapkan menjadi titik penting untuk kembali kepada akar: merajut sejarah, memperkuat persaudaraan, menghidupkan adat, mendidik generasi, menjaga lingkungan, dan membangun masa depan.
PARHARI diharapkan tumbuh sebagai rumah besar keluarga Hasibuan di Riau—rumah yang berakar pada sejarah, berpegang pada nilai Dalihan Na Tolu dan Poda Na Lima, sekaligus terbuka untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Sebab, merawat akar bukan berarti hidup di masa lalu.
Merawat akar adalah memastikan pohon tetap mampu tumbuh dan memberikan buah bagi generasi yang akan datang.
Horas Tondi Madingin, Pir Tondi Matogu.
Selamat Milad ke-2 PARHARI Provinsi Riau.
27 September 2026: Merajut Akar Sejarah, Memperkuat Persaudaraan, Melestarikan Budaya. *

